LISENSI

RmdmRmA6TmA7Rmd8Rmj7Rqw5R7TusBSpMXQpaVQps6ftMBQcsrfoaBL=

CUSTOM CSS DAN JS

CLOSE AD
Artikel,BOP,Konflik Palestina-Israel,Opini,Palestina,perdamaian,Trump,

Perdamaian Atau Ilusi? Membaca “Sandiwara" Gencatan Senjata Israel-AS

Sumber Gambar : CNN Indonesia

Oleh: Diana Aprilianti | Aktivis Dakwah Remaja

Krinzk.co - Di tengah hiruk-pikuk konflik Israel-Palestina yang tak kunjung usai, gencatan senjata yang disponsori AS kerap kali menjadi topik perdebatan. Apakah ini langkah nyata menuju perdamaian, ataukah sekedar sandiwara politik untuk menenangkan gejolak dunia Islam? Dalam konteks ini, kita perlu memahami perspektif Islam tentang perdamaian, konsep 'sulh' dan 'hudaiyah', serta bagaimana umat Islam harus bersikap di tengah dinamika geopolitik yang kompleks ini. Apakah kita akan terus terjebak dalam lingkaran kekerasan, ataukah ada harapan untuk perdamaian yang lebih abadi?

Dikutip dari CNN Indonesia, militer Israel kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan menggempur habis-habisan Jalur Gaza, Palestina, pada Rabu (4/2). Imbas serangan Israel 23 orang termasuk anak-anak tewas. Sejak gencatan diterapkan pada Oktober lalu, pasukan Israel telah membunuh 520 warga di Palestina. Sebelum gencatan, Israel meluncurkan agresi ke Gaza sejak Oktober 2023. Imbas tindakan ini lebih dari 70.000 warga di Palestina tewas dan jutaan orang terpaksa mengungsi.

Gencatan senjata kerap dipromosikan sebagai langkah awal untuk menghentikan kekerasan yang terus berlangsung di Gaza. Dalam berbagai forum internasional, termasuk di Perserikatan Bangsa-Bangsa, seruan penghentian serangan disampaikan sebagai bentuk komitmen terhadap perlindungan warga sipil dan stabilitas kawasan. Amerika Serikat dan Israel juga menyuarakan skema kesepakatan tertentu termasuk pengaturan jeda kemanusiaan, pertukaran tawanan, serta mekanisme pengawasan yang digambarkan sebagai bagian dari upaya menuju perdamaian berkelanjutan.

BoP dipresentasikan sebagai fondasi diplomatik agar kedua pihak dapat menahan diri dan membuka ruang dialog. Dalam narasi resminya, langkah ini disebut sebagai solusi realistis untuk meredakan krisis kemanusiaan, memungkinkan distribusi bantuan, serta menciptakan momentum negosiasi politik jangka panjang.

Namun di sisi lain, berbagai laporan menunjukkan bahwa pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata kerap terjadi. Serangan balasan, operasi militer terbatas, maupun aksi yang memicu eskalasi kembali muncul tak lama setelah kesepakatan diumumkan. Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang efektivitas dan komitmen para pihak dalam menegakkan perjanjian yang telah disepakati.

Bagi masyarakat Gaza, kondisi ini menciptakan ketidakpastian yang terus berulang: harapan akan jeda kekerasan sering kali hanya berlangsung singkat sebelum kembali diwarnai ketegangan. Pelanggaran yang terjadi bukan hanya berdampak pada aspek militer, tetapi juga memperburuk krisis kemanusiaan mulai dari terbatasnya akses listrik, air bersih, hingga layanan kesehatan.

Sebagian masyarakat internasional dinilai terlalu mudah menerima narasi gencatan senjata dan BoP yang diinisiasi oleh Amerika Serikat. Setiap kali kesepakatan diumumkan, muncul optimisme bahwa konflik akan mereda dan bantuan kemanusiaan dapat masuk tanpa hambatan. Namun, di lapangan, pelanggaran demi pelanggaran kerap terjadi tidak lama setelah kesepakatan diteken. Kondisi ini memunculkan anggapan bahwa komitmen tersebut lebih bersifat politis daripada substansial. Ketika pelanggaran berulang tidak diikuti dengan sanksi tegas atau tekanan serius dari kekuatan global, muncul kesan bahwa standar ganda sedang dipertontonkan di hadapan dunia.

Dalam perspektif kritis, gencatan senjata dan BoP dipandang bukan semata langkah menuju perdamaian, melainkan instrumen diplomasi untuk meredakan tekanan internasional sekaligus menjaga kepentingan strategis. Amerika Serikat sebagai sekutu utama Israel memiliki pengaruh besar dalam arah kebijakan konflik ini. Dukungan politik dan militer yang konsisten terhadap Israel membuat sebagian pihak menilai bahwa inisiatif perdamaian sering kali tidak sepenuhnya netral. Akibatnya, gencatan senjata dipersepsikan sebagai “jeda taktis” yang memberi ruang konsolidasi, bukan penyelesaian akar persoalan seperti pendudukan wilayah dan hak-hak rakyat Palestina.

Kritik juga diarahkan kepada para pemimpin negeri-negeri Muslim yang dianggap belum menunjukkan sikap tegas. Alasan menjaga stabilitas kawasan dan menghindari eskalasi perang kerap dikedepankan untuk membenarkan pendekatan diplomasi lunak. Beberapa negara bahkan memilih bergabung dalam skema kerja sama atau kesepakatan yang dinilai sebagian kalangan justru menguntungkan pihak yang lebih kuat. Di sisi lain, realitas geopolitik menunjukkan bahwa banyak negara berada dalam posisi dilematis terikat kepentingan ekonomi, keamanan, dan aliansi global sehingga ruang geraknya terbatas.

Sikap umat terhadap konflik Palestina tidak cukup berhenti pada empati dan kecaman simbolik. Umat dituntut memiliki ketegasan moral dalam menyikapi berbagai narasi perdamaian yang dinilai tidak menyentuh akar persoalan keadilan. Ketegasan ini bukan dalam bentuk kebencian, melainkan dalam bentuk kesadaran kritis, keberpihakan pada kebenaran, serta konsistensi membela hak-hak yang tertindas.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil…” (TQS. An-Nisa: 135)

Ayat ini menegaskan bahwa keberpihakan seorang mukmin harus berlandaskan keadilan, bukan kepentingan politik atau tekanan kekuatan besar.

Di sisi lain, persatuan umat menjadi kunci dalam menghadapi berbagai bentuk dominasi global. Perpecahan hanya akan melemahkan posisi tawar dunia Islam dalam percaturan internasional.

Allah SWT berfirman:

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…” (TQS. Ali ‘Imran: 103)

Persatuan yang dimaksud bukan sekadar simbolik, tetapi terwujud dalam kerja sama nyata: penguatan diplomasi, solidaritas kemanusiaan, kemandirian ekonomi, serta keberanian bersuara di forum internasional.

Lebih jauh, edukasi politik umat menjadi kebutuhan mendesak. Masyarakat perlu memahami dinamika geopolitik secara jernih agar tidak mudah terjebak dalam propaganda atau kepentingan sepihak. Perubahan besar dalam sejarah Islam sendiri selalu dimulai dari perubahan kesadaran.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (TQS. Ar-Ra’d: 11)

Artinya, kebangkitan umat tidak lahir dari emosi sesaat, tetapi dari visi yang matang, kepemimpinan yang amanah, dan perjuangan yang berlandaskan prinsip keadilan serta kemaslahatan.

Wallahu a'lam bi ash-shawab.

Halaman
3733067073743872993
Chat Kami disini

Form Bantuan Whatsapp

Hello! Ada yang bisa dibantu?
×
×
Total Harga ( Produk)

Tulis catatan disini untuk keterangan lainnya

Total Harga ( Produk)

Biaya Admin:

Biaya ongkir: dg berat ()

Total Pembayaran:

Untuk produk fisik, Ongkos kirim akan muncul setelah ongkir dipilih

Tampilkan Kupon