Kasus Grup Chat UI : Bukti Kehancuran Generasi Tanpa Islam
Oleh : Fauziah Al-Ghauri | Mahasiswi
Krinkz.co - Kasus tersebut terungkap setelah beredarnya tangkapan layar percakapan para terduga pelaku di media sosial. Koordinator Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, pada Selasa (14/04) menyampaikan bahwa kondisi ini menunjukkan sekolah dan kampus belum sepenuhnya menjadi lingkungan yang aman.
Di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, sebanyak 16 mahasiswa diduga melakukan pelecehan seksual terhadap sejumlah mahasiswi hingga dosen. Bentuk kasus yang paling banyak ditemukan adalah kekerasan seksual sebesar 46%, kemudian kekerasan fisik 34%, dan perundungan 19%.
Berbagai kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan, termasuk yang terjadi di FH UI, menunjukkan bahwa masalah ini tidak hanya berkaitan dengan perilaku individu, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan dan sistem yang ada. Bahkan, pelaku sering kali berasal dari lingkungan pendidikan itu sendiri.
Dalam pandangan Islam, setiap tindakan manusia diatur oleh hukum syara’, termasuk ucapan atau perilaku verbal yang dianggap sepele namun dapat termasuk perbuatan maksiat apabila mengandung unsur pelecehan atau merendahkan orang lain. Sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan dinilai telah mengubah standar benar dan salah yang seharusnya berpedoman pada wahyu Allah, seperti Al-Qur’an dan hadis.
Selain itu, perkembangan teknologi yang tidak diimbangi dengan kontrol moral juga menjadi faktor pendukung terjadinya kasus serupa. Penanganan kasus sering kali bersifat reaktif dan baru mendapat perhatian setelah viral di media sosial. Oleh karena itu, persoalan ini dipandang bukan hanya karena lemahnya iman individu, tetapi juga karena lingkungan dan sistem pendidikan yang belum menjadikan syariat Islam sebagai landasan utama.
Seseorang yang memahami ajaran Islam dengan baik akan berusaha menjaga diri dalam perkataan, sikap, maupun interaksi dengan orang lain. Kondisi yang terjadi saat ini terasa memprihatinkan karena menunjukkan belum optimalnya sistem dalam membentuk karakter yang baik.
Masalah ini perlu diselesaikan hingga ke akar dan sistemnya, sebab kenyataannya sistem yang ada saat ini belum mampu menyelesaikan persoalan secara menyeluruh. Dalam hal ini, mahasiswa dan pemuda seharusnya dapat menjadi teladan bagi lingkungan sekitar, bukan justru terlibat dalam perilaku yang merusak.
Selama sistem yang diterapkan belum menjadikan nilai moral dan agama sebagai landasan utama, berbagai bentuk penyimpangan akan terus muncul dalam bentuk yang berbeda-beda. Dalam Islam, setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh perbuatannya, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi. Karena itu, pemahaman dan penerapan hukum syara’ menjadi hal penting dalam mengatur perilaku manusia.
Hukum syara’ bersifat mengikat bagi setiap Muslim yang sudah baligh dan berakal (mukallaf). Maraknya kekerasan seksual verbal saat ini menunjukkan bahwa banyak orang belum menjaga lisannya sesuai tuntunan Islam. Oleh sebab itu, dibutuhkan perubahan yang lebih mendasar, tidak hanya pada individu tetapi juga pada sistem yang mengatur kehidupan, agar dapat memberikan solusi yang menyeluruh dan mencegah terjadinya penyimpangan sejak awal.
.jpg)