Saat Memoar Pribadi Berubah Jadi Polemik Publik, Di Mana Batas Kita Bersikap?
Broken Strings memuat pengalaman personal Aurelie semasa remaja, termasuk dinamika hubungan yang ia jalani dan proses emosional yang menyertainya. Buku ini mendapat respons luas dari pembaca karena mengangkat tema relasi yang rumit, tekanan psikologis, serta upaya pemulihan diri. Namun, seiring meningkatnya perhatian publik, muncul dugaan dari sebagian warganet yang mengaitkan karakter dalam buku dengan figur nyata.
Menanggapi situasi tersebut, Aurelie meminta publik menghentikan spekulasi dan perundungan terhadap siapa pun yang dianggap terkait dengan isi bukunya. Ia menekankan bahwa cerita yang ditulis merupakan pengalaman subjektif dari sudut pandangnya dan tidak dimaksudkan untuk membuka ruang penghakiman terhadap individu lain. Ia juga menegaskan tidak pernah menyebutkan nama asli siapa pun dalam karyanya.
Menurut Aurelie, fokus utama Broken Strings adalah berbagi pengalaman hidup dan pelajaran emosional yang ia dapatkan, bukan untuk mencari pembenaran atau memicu konflik baru. Ia mengajak pembaca untuk memahami konteks cerita secara utuh dan tidak menarik kesimpulan di luar apa yang tertulis. Aurelie menyebut, apabila ada pihak yang merasa teridentifikasi dengan karakter tertentu, hal tersebut merupakan urusan pribadi masing-masing.
Di tengah polemik tersebut, musisi Roby Tremonti turut memberikan klarifikasi terkait namanya yang ramai diperbincangkan publik. Ia membantah tuduhan yang mengarah pada praktik grooming atau tindakan melanggar hukum lainnya. Roby menegaskan bahwa narasi yang berkembang di media sosial kerap tidak disertai pemahaman menyeluruh atas fakta dan konteks kejadian.
Roby juga menjelaskan bahwa hubungan yang pernah dijalaninya di masa lalu berlangsung dengan sepengetahuan keluarga dan menolak dikaitkan dengan istilah pedofilia. Ia menilai penggunaan istilah tersebut di ruang publik harus dilakukan secara hati-hati karena memiliki definisi hukum dan medis yang jelas.
Kontroversi seputar Broken Strings turut memicu diskusi lebih luas di masyarakat mengenai batas antara karya memoar, pengalaman personal, dan respons publik. Sejumlah pengamat menilai fenomena ini mencerminkan tantangan era digital, di mana cerita pribadi yang dipublikasikan dapat dengan cepat berkembang menjadi polemik sosial.
Aurelie berharap polemik yang terjadi tidak mengaburkan tujuan utama bukunya. Ia mengajak publik untuk lebih bijak dalam menyikapi karya berbasis pengalaman pribadi dan menjadikan kisah tersebut sebagai bahan refleksi, bukan alat untuk menyerang atau menghakimi pihak lain.
P: Nugroho Maulana
