ENERGI MILIK UMAT: SOLUSI ISLAM ATASI BBM LANGKA
Oleh : Yulia Ningsih | Aktivis Dakwah Muslimah
Krinkz.co - Antrian pengisian bahan bakar minyak di kota Makasar hingga daerah lain di Sulawesi Selatan tidak terkendali. Pengendara antri sejak malam, dini hari, baik di SPBU maupun di pertamini. Pembelajaran di lakukan daring, dan pegawai bekerja di rumah agar mobilitas berkurang. Apa yang sebenarnya terjadi dengan krisis BBM di wilayah ini?
Selama sepekan terakhir, antrian BBM khususnya Pertalite dan Biosolar tidak mengenal waktu. panjang antrian mencapai ratusan bahkan hingga beberapa kilometer. Pengendara mengantri sejak dini hari, malam, atau siang hari.
Itu bukan sinetron, itu terjadi hari ini, di negeri yang katanya kaya raya akan minyak dan gas. kita hidup di atas ladang energi. Tapi kenapa setiap tahun, drama yang sama terus berulang?.
Antrian mengular, harga meroket, dan dapur rakyat padam. Mereka bilang "stok aman". Tapi faktanya, polisi harus turun sidak SPBU. Mereka bilang"jangan panik buying", tapi Mafia meraup milyaran rupiah dari hasil menimbun dan oplos gas melon kita.
Jelas, ini bukan sekedar masalah distribusi yang telat. Ini masalah sistem yang menjadikan hak hidup rakyat sebagai barang dagangan. Ini merupakan bentuk kedzoliman sistemik yaitu buah dari hasil penerapan sistem sekularisme-kapitalisme.
Lalu, bagaimana jika energi ini di kelola bukan dengan logika untung- rugi kapitalisme, tapi dengan aturan langit yang adil? Kita kaya minyak, kita kaya gas. Tapi kenapa harus masih antri berjam- jam untuk bisa mendapatkan BBM di SPBU. Ini bukan takdir ini merupakan buah dari sistem yang salah tata kelola.
BBM dan LPG di kelola seperti barang dagangan di jadikan lahan bisnis oleh segelintir orang yang mempunyai modal besar, dan rantai pendistribusiannya panjang ada pertamina, ada swasta, ada agen, ada pangkalan, sehingga bisa menyebabkan bicor dan telat. Akibat dari subsidi yang salah sasaran negara mengalami kerugian milyaran rupiah karena ulah mafia yang menimbun bahan bakar solar dan gas.
Negara sibuk mengatur harga dan jatah, bukan menjamin pasokan untuk kesejahteraan dan keadilan rakyat alhasil rakyat kecil yang menjadi korban dan kaum kapitalis yang meraup keuntungan. Lalu, bagaimana solusi dalam sistem islam dalam menangani kelangkaan BBM saat ini?
Di dalam sistem islam BBM dan LPG bukan sekedar komoditas. Rosululloh SAW, bersabda, yang artinya:"kaum muslim berserikat dalam tiga perkara:padang rumput, air dan api"(HR. Abu daud dan Ahmad).
Para ulama menjelaskan"api"di sini artinya mencakup energi termasuk minyak dan gas. Dengan demikian penjabaran dari hadist di atas sebagai berikut:
Pertama, Kepemilikan umum haram di privatisasi. Tambang minyak dan gas adalah milik umum(milkiyatul 'ammah). Haram di kuasai swata asing maupun individu untuk di jadikan lahan bisnis(komersialisasi). Negara wajib mengelolanya sepenuhnya tidak boleh di serahkan kepada segelintir orang.
Kedua, Negara sebagai pengelola, bukan pedagang. Negara bertugas bukan untuk mencari keuntungan, tetapi untuk menjamin distribusi. Hasil pengelolaan di kembalikan kepada rakyat dalam bentuk jaminan energi murah, bahkan gratis untuk kebutuhan dasar. Tidak ada istilah"subsidi di cabut", karena memang itu hak rakyat.
Ketiga, Haram menimbun(ihtikar). Di dalam islam mengharamkan keras penimbunan barang kebutuhan publik(umum). pelakunya di sebut Rosululloh SAW sebagai pendosa besar.
Rosululloh SAW. bersabda, yang artinya: "Tidaklah menimbun kecuali orang yang berdosa"(HR. Muslim). Di dalam syari'at islam negara akan memberikan sanksi tegas, ta'zir berat dan menyita barang timbunan untuk langsung di salurkan kepada rakyat, tidak ada negosiasi.
Keempat, Distribusi di jamin sampai ke pelosok. Dengan bantuan Baitul Mal yang kuat, negara membangun infrastruktur penyimpanan dan armada distribusi hingga ke pulau terkecil, tanpa memikirkan untung-rugi, karena tujuan utamanya adalah ri'ayah (mengurus)r akyat.
Kelangkaan BBM dan LPG hari ini bukti bahwa ketika energi di serahkan pada mekanisme pasar yang langka bukan hanya BBM-nya tetapi juga keadilan. Sudah saatnya kita berpikir sistemik, bukan hanya mengganti pejabat atau tambah stok, tapi mengganti paradigma pengelolaan.
Dan semua itu akan terwujud dengan adanya suatu wadah institusi khilafah yang menerapkan sistem islam dalam berbagai aspek kehidupan yang akan menuntaskan berbagai problematika kehidupan umat saat ini, sehingga terciptanya kehidupan Rahmatan lil alamin.
Wallohu 'alam bishowab
