China Balas Kritik Latihan Taiwan, Lin Jian Sebut Sikap Munafik
KRINKZ.CO, Beijing – Pemerintah China merespons keras kritik internasional terhadap latihan militer besar-besaran yang digelar di sekitar Taiwan pada akhir Desember 2025. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyebut pihak-pihak yang mengkritik latihan tersebut bersikap munafik dan tidak konsisten dalam menyikapi isu kedaulatan China.
Latihan militer itu melibatkan operasi gabungan Tentara Pembebasan Rakyat China yang mencakup angkatan darat, laut, udara, serta pasukan roket. Manuver dilakukan di wilayah perairan dan udara sekitar Selat Taiwan dengan skenario pengamanan wilayah, simulasi blokade, hingga uji koordinasi tempur lintas matra.
Sejumlah negara, termasuk Jepang, Australia, serta beberapa negara Eropa, sebelumnya menyampaikan keprihatinan atas latihan tersebut. Mereka menilai aktivitas militer China berpotensi meningkatkan ketegangan dan mengganggu stabilitas kawasan Asia Timur.
Menanggapi kritik itu, Lin Jian menegaskan bahwa negara-negara tersebut menutup mata terhadap apa yang disebutnya sebagai aktivitas separatis di Taiwan. Ia menyebut kritik yang dilontarkan justru memutarbalikkan fakta dan mengabaikan hak China untuk mempertahankan kedaulatan serta keutuhan wilayahnya.
Lin menegaskan bahwa latihan militer di sekitar Taiwan merupakan tindakan yang sah dan perlu. Menurutnya, langkah tersebut ditujukan untuk menjaga stabilitas nasional dan mencegah upaya pemisahan wilayah. Ia juga menekankan bahwa isu Taiwan sepenuhnya merupakan urusan dalam negeri China yang tidak boleh dicampuri pihak luar.
“Beberapa pihak menutup mata terhadap kekuatan separatis di Taiwan, namun justru menyerang langkah yang sah dan adil dari China untuk melindungi kedaulatan nasional,” ujar Lin dalam konferensi pers di Beijing.
China kembali mengingatkan negara-negara lain untuk menghormati prinsip satu China yang selama ini menjadi dasar hubungan diplomatik Beijing dengan komunitas internasional. Pemerintah China menilai kritik terhadap latihan militer tersebut bertentangan dengan komitmen yang telah disepakati sebelumnya.
Latihan militer yang digelar pada 29 dan 30 Desember itu menjadi sorotan global karena dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Taiwan. Taiwan dilaporkan meningkatkan kewaspadaan militernya selama latihan berlangsung dan menilai manuver tersebut sebagai bentuk tekanan langsung dari Beijing.
Pernyataan keras China ini menegaskan posisi Beijing yang tidak berubah terkait Taiwan. Hingga kini, latihan militer di sekitar wilayah tersebut masih menjadi salah satu isu utama dalam hubungan China dengan negara-negara kawasan maupun Barat.
P: Dwi Septa Andrianto
