Calon Manajer Kopdes Meninggal Lima Orang, DPR Desak Evaluasi Total, Publik Pertanyakan Standar Keselamatan
KRINKZ.CO, Jakarta – Meninggalnya lima peserta pelatihan calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih memicu perhatian publik. Peristiwa tersebut mendorong anggota Komisi VI DPR RI, Ida Nurlaela Wiradinata, meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan pelatihan yang dijalankan.
Ida menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para peserta yang meninggal dunia. Menurutnya, kejadian tersebut harus menjadi bahan evaluasi agar program serupa di masa mendatang lebih mengutamakan aspek keselamatan peserta.
Ia menilai investigasi secara menyeluruh perlu dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti meninggalnya para peserta. Hasil penyelidikan yang transparan dinilai penting agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
Selain itu, pemerintah didorong mengevaluasi seluruh tahapan pelatihan, mulai dari proses seleksi peserta, kesiapan fisik, fasilitas pendukung, hingga sistem pengawasan selama kegiatan berlangsung.
Menurut Ida, keberhasilan program Koperasi Desa Merah Putih tidak hanya ditentukan oleh kualitas pelatihan, tetapi juga oleh kemampuan menghasilkan sumber daya manusia yang profesional dan siap mengembangkan koperasi di daerah.
Ia juga menilai setiap program pemerintah harus mengedepankan prinsip keselamatan kerja. Risiko yang muncul selama pelatihan harus dapat diantisipasi melalui prosedur yang jelas dan sesuai dengan standar yang berlaku.
Kasus ini turut menjadi perhatian berbagai kalangan karena menyangkut perlindungan peserta dalam program yang bertujuan meningkatkan kapasitas pengelola koperasi. Banyak pihak berharap evaluasi tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga menghasilkan perbaikan yang nyata.
Pemerintah diharapkan segera menyampaikan hasil investigasi kepada publik secara terbuka. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap program pemberdayaan koperasi yang tengah dijalankan.
Selain mengungkap penyebab kejadian, evaluasi juga diharapkan melahirkan rekomendasi guna meningkatkan kualitas pelatihan di masa mendatang. Dengan demikian, tujuan program dapat tercapai tanpa mengabaikan keselamatan peserta.
Hingga kini proses evaluasi masih terus didorong agar berjalan secara objektif dan menyeluruh. Peristiwa ini diharapkan menjadi pelajaran penting dalam memperkuat standar keselamatan pada setiap program pelatihan yang melibatkan masyarakat.
P: Givary Apriman
