LISENSI

RmdmRmA6TmA7Rmd8Rmj7Rqw5R7TusBSpMXQpaVQps6ftMBQcsrfoaBL=

CUSTOM CSS DAN JS

CLOSE AD
Artikel,budaya,islam,Memelihara Budaya,peradaban,

Memelihara Budaya Merawat Peradaban Dengan Islam

Sumber Gambar : Canva

 

Oleh : Neni Rahayu | Aktivis Dakwah Muslimah

 

Dikutip dari Radarbandung.id, Ketua DPRD Bandung Renie Rahayu Fauzi menegaskan pentingnya pelestarian budaya sebagai pondasi utama dalam pembangunan daerah.  Menurutnya, budaya lokal merupakan kekuatan yang membentuk karakter daerah sekaligus menjadi penyangga dalam menghadapi perubahan zaman.

 

Setiap daerah punya wajah, wajah itu bukan gedung pencakar langit atau jalan tol yang mulus. Wajah daerah adalah budayanya, bahasa yang di tutur, kain yang di tenun,

tarian yang di gelar, hingga nilai hidup yang di wariskan dari leluhur.

 

Sayangnya, arus pembangunan seringkali bergerak terlalu cepat hingga lupa menengok ke belakang. Atas nama modernisasi, banyak warisan budaya digusur pelan-pelan.

 

Bahasa ibu mulai asing di telinga anak sendiri. Rumah adat diganti ruko. Kearifan lokal di anggap kuno dan menghambat investasi. Padahal pembangunan tanpa budaya ibarat kapal tanpa kompas, ia mungkin melaju kencang, tapi kehilangan arah. Ia mungkin terlihat megah, tapi hampa jiwa. Sebab sejatinya, budaya bukan penghambat pembangunan, budaya adalah pondasi dan kompasnya.

 

KSekularisme  pembangunan

 

Paradigma pembangunan modern memisahkan agama dan budaya dari urusan dunia. Akibatnya, tolak ukur maju hanya infrastruktur dan investasi, nilai, adab dan kearifan lokal dianggap tidak produktif, padahal dalam Islam, dunia dan akhirat satu kesatuan. Sebagaimana di dalam alquran ;

 

“Dan carilah apa yang telah di anugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari dunia” (QS. Al Qashash: 77).

 

Tasyabbuh buta dan inferiority complex

 

Daerah berlomba meniru kota besar atau luar negeri. Arsitektur seragam kaca-beton, bahasa asing lebih di banggakan, anak muda malu pakai pakaian adat. Ini bentuk tasyabbuh yang menghilangkan identitas.

Rasulullah bersabda:

“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Abu Dawud).

 

Komersialisasi yang merusak

Budaya hanya dilihat dari nilai “laku dijual”. Akibatnya sakral jadi profan, makna di korbankan demi tontonan, contoh: ritual adat dipotong biar wisatawan tidak bosan, atau motif kain tradisional di jiplak tanpa izin pengrajin. Ini bukan pelestarian melainkan eksploitasi.

 

Negara hanya jadi regulator, bukan penjaga

 

Dalam sistem kapitalistik, negara lepas tangan. Budaya diurus komunitas dengan dana sendiri sementara investor bebas bangun mall di atas situs sejarah, padahal dalam Islam mewajibkan negara sebagai ra’in yaitu pengurus dan pelindung rakyat termasuk budayanya.

 

Maka di dalam sistem Islam, bagaimana menjaga budaya dalam pembangunan

Islam tidak anti budaya. Kaidah fikih menyebut “Al-‘Adah Muhakkamah”. Adat kebiasaan bisa dijadikan hukum selama tidak bertentangan dengan syariat.

 

Maka solusinya, menjadikan aqidah sebagai kompas pembangunan. Sehingga arah pembangunan harus terikat syariat, tidak boleh melanggar syariat. Dari sini maka negara wajib menjadi penjaga budaya dan peradaban. Negara Islam harus menjaga identitas loka dan menjadikan budaya sebagai pilar ekonomi syariah.  Budaya lokal harus selaras syariat sebagai pijakan. Dengan begitu, daerah tidak kehilangan muka di hadapan dunia, dan kehilangan muka di hadapan Allah. Untuk itu segera campakan sistem yang rusak ini, dengan menerapkan syariat islam. Wallahualam biashawab.

 

 

Halaman
Tambah Favorit
3733067073743872993
Chat Kami disini

Form Bantuan Whatsapp

Hello! Ada yang bisa dibantu?
×
×
Total Harga ( Produk)

Tulis catatan disini untuk keterangan lainnya

Total Harga ( Produk)

Biaya Admin:

Biaya ongkir: dg berat ()

Total Pembayaran:

Untuk produk fisik, Ongkos kirim akan muncul setelah ongkir dipilih

Tampilkan Kupon