LISENSI

RmdmRmA6TmA7Rmd8Rmj7Rqw5R7TusBSpMXQpaVQps6ftMBQcsrfoaBL=

CUSTOM CSS DAN JS

CLOSE AD
Artikel,Digital,islam kaffah,Opini,Pendidikan,Pergaulan anak,Sekolah,siswa,Teknologi,

Tren Freestyle yang Merenggut Nyawa, Alarm bagi Pengawasan Anak

Sumber Gambar : Canva

Oleh : Endah Nursari | Aktivis Dakwah

Krinkz.co - Perkembangan teknologi dan media sosial saat ini memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan anak-anak. Berbagai video viral, tantangan daring, hingga aksi ekstrem dapat dengan mudah diakses hanya melalui telepon genggam. Di satu sisi teknologi memang membawa manfaat, tetapi di sisi lain juga dapat menjadi ancaman apabila tidak digunakan dengan bijak. 


Tragedi meninggalnya dua anak di Lombok Timur setelah meniru aksi “freestyle” yang viral menjadi peringatan serius bagi orang tua, sekolah, masyarakat, dan negara tentang pentingnya pengawasan terhadap anak di dunia digital.


Kasus tersebut sangat memprihatinkan karena korbannya masih berusia anak-anak, yaitu usia taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Pada usia tersebut, anak belum mampu memahami risiko dan bahaya secara matang. Mereka cenderung meniru apa yang dianggap menarik dan seru tanpa memikirkan akibatnya. Tayangan aksi berbahaya yang sering muncul di media sosial maupun game online dianggap sebagai hiburan biasa, padahal dapat mengancam keselamatan apabila dipraktikkan secara langsung.


Secara psikologis, anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Mereka juga mudah terdorong untuk mengikuti sesuatu yang sedang tren agar dianggap keren oleh teman-temannya. Kemampuan berpikir kritis dan memahami risiko belum berkembang sempurna. Karena itu, ketika melihat video aksi ekstrem atau tantangan viral, anak dapat langsung mencoba tanpa mempertimbangkan dampak buruknya. Inilah sebabnya pengawasan dan pendampingan dari orang dewasa menjadi sangat penting.


Peran orang tua dalam menghadapi perkembangan teknologi sebenarnya sangat besar. Namun kenyataannya, masih banyak orang tua yang memberikan akses gawai secara bebas kepada anak tanpa pengawasan yang cukup. Anak dibiarkan memainkan game online atau menonton video dalam waktu lama tanpa mengetahui apa saja konten yang mereka lihat. Kondisi ini membuat anak lebih mudah terpapar tayangan yang tidak sesuai dengan usia mereka. Bahkan, tidak sedikit orang tua yang menjadikan gawai sebagai alat agar anak diam dan tidak mengganggu aktivitas mereka.


Selain keluarga, sekolah juga memiliki tanggung jawab dalam membentuk kesadaran anak terhadap penggunaan media digital. Pendidikan saat ini tidak cukup hanya fokus pada pelajaran akademik, tetapi juga harus memberikan pemahaman tentang etika dan keamanan dalam menggunakan internet. Anak perlu diajarkan memilih tontonan yang baik, memahami bahaya meniru konten berisiko, serta berani menolak ajakan yang dapat membahayakan diri mereka sendiri. Guru dan pihak sekolah harus aktif memberikan edukasi mengenai penggunaan media sosial secara sehat dan aman.


Di sisi lain, pemerintah dan platform digital juga tidak boleh lepas tangan terhadap persoalan ini. Banyak konten berbahaya yang cepat viral karena algoritma media sosial lebih mengutamakan jumlah penonton dibandingkan faktor keamanan. Akibatnya, video aksi ekstrem dapat dengan mudah muncul di hadapan anak-anak. Regulasi terkait perlindungan anak di ruang digital masih perlu diperkuat agar platform memiliki tanggung jawab lebih besar dalam menyaring konten yang membahayakan pengguna usia dini.


Dalam pandangan Islam, anak adalah amanah dari Allah SWT yang wajib dijaga dan dididik dengan baik. Orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam melindungi anak dari segala bentuk bahaya, baik fisik maupun moral. Islam mengajarkan bahwa setiap orang tua akan dimintai pertanggungjawaban atas pendidikan dan penjagaan terhadap anak-anaknya. Karena itu, membiarkan anak mengakses tontonan berbahaya tanpa pengawasan termasuk bentuk kelalaian yang harus dihindari.


Solusi menurut syariat Islam dalam menghadapi masalah ini harus dilakukan secara menyeluruh. Pertama, orang tua wajib meningkatkan pengawasan terhadap penggunaan gawai anak, membatasi waktu bermain, serta memilihkan tontonan yang sesuai dengan usia mereka. Kedua, sekolah perlu memperkuat pendidikan akhlak dan literasi digital agar anak memahami manfaat serta bahaya media sosial.

Ketiga, negara harus membuat aturan yang lebih tegas terhadap penyebaran konten berbahaya dan memberikan perlindungan maksimal kepada anak di ruang digital. Selain itu, masyarakat juga perlu saling mengingatkan dan menciptakan lingkungan yang baik bagi tumbuh kembang anak.


Tragedi di Lombok Timur hendaknya menjadi pelajaran penting bagi kita semua bahwa teknologi harus digunakan dengan bijak dan penuh tanggung jawab. Dengan kerja sama antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara serta penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berakhlak baik, dan terlindungi dari pengaruh buruk dunia digital.

Halaman
3733067073743872993
Chat Kami disini

Form Bantuan Whatsapp

Hello! Ada yang bisa dibantu?
×
×
Total Harga ( Produk)

Tulis catatan disini untuk keterangan lainnya

Total Harga ( Produk)

Biaya Admin:

Biaya ongkir: dg berat ()

Total Pembayaran:

Untuk produk fisik, Ongkos kirim akan muncul setelah ongkir dipilih

Tampilkan Kupon