Kerugian Penipuan Online Capai Rp9,5 Triliun OJK Ungkap Modus yang Paling Banyak Memakan Korban
KRINKZ.CO, Jakarta – Kerugian masyarakat akibat penipuan online di Indonesia mencapai Rp9,5 triliun hingga April 2026. Angka tersebut terungkap dari data yang dihimpun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Indonesia Anti Scam Center (IASC) setelah menerima ratusan ribu laporan dari masyarakat.
Jumlah laporan penipuan digital yang masuk telah menembus lebih dari 549 ribu kasus. Nilai kerugian tersebut menunjukkan bahwa kejahatan siber masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat, terutama di tengah meningkatnya penggunaan layanan keuangan digital dan transaksi online.
OJK mencatat sebagian besar korban baru melaporkan kejadian setelah beberapa jam transaksi terjadi. Padahal, pelaku penipuan umumnya hanya membutuhkan waktu singkat untuk memindahkan dana ke berbagai saluran seperti dompet digital, rekening lain, aset kripto, hingga platform belanja online.
Berbagai modus penipuan terus berkembang, mulai dari transaksi belanja online palsu, penyamaran identitas lembaga resmi, penawaran investasi fiktif, lowongan kerja palsu, hingga penipuan melalui media sosial. Modus tersebut memanfaatkan kelengahan korban untuk memperoleh akses terhadap data maupun dana milik masyarakat.
Untuk menekan kerugian yang lebih besar, OJK bersama berbagai lembaga terkait terus memperkuat upaya pencegahan dan penanganan penipuan digital. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mempercepat pemblokiran rekening yang terindikasi digunakan dalam aktivitas penipuan serta meningkatkan edukasi kepada masyarakat.
OJK mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati saat menerima tawaran investasi, promosi belanja, maupun pesan yang meminta data pribadi dan informasi perbankan. Kecepatan pelaporan juga menjadi faktor penting untuk meningkatkan peluang penyelamatan dana korban.
Tingginya angka kerugian akibat penipuan online menunjukkan bahwa literasi digital dan kewaspadaan masyarakat masih menjadi kunci utama dalam menghadapi berbagai modus kejahatan keuangan yang terus berkembang.
P: Kenzo Abimanyu
