LISENSI

RmdmRmA6TmA7Rmd8Rmj7Rqw5R7TusBSpMXQpaVQps6ftMBQcsrfoaBL=

CUSTOM CSS DAN JS

CLOSE AD
Artikel,ekonomi sirkular,Indonesia,investasi lingkungan,kesehatan masyarakat,pencemaran lingkungan,pengelolaan sampah,pengolahan limbah,sampah Kabupaten Tangerang,teknologi pengolahan sampah,TPA Jatiwaringin,

Sampah Kabupaten Tangerang Capai 2.500 Ton Per Hari, Sistem Lama Dinilai Tak Memadai, Warga Butuh Perlindungan

Gunungan sampah menumpuk di area tempat pembuangan akhir di Kabupaten Tangerang di tengah persoalan pengelolaan lingkungan.

KRINKZ.CO, Tangerang – Kabupaten Tangerang menghadapi persoalan lingkungan dengan produksi sampah rata-rata sekitar 2.500 ton per hari. Besarnya timbulan sampah mendorong kebutuhan perubahan dari pola angkut dan buang menuju sistem pengelolaan yang lebih modern dan berkelanjutan.

Kebakaran di TPA Jatiwaringin menjadi salah satu peristiwa yang menunjukkan besarnya risiko dari penumpukan sampah. Gunungan sampah dapat memicu kebakaran, menghasilkan asap pekat, dan menurunkan kualitas udara di wilayah sekitar.

Persoalan lingkungan juga dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah, termasuk Kelurahan Mekar Bakti, Kecamatan Panongan. Warga berulang kali mengeluhkan bau menyengat menyerupai oli terbakar yang mengganggu lingkungan tempat tinggal mereka.

Kementerian Lingkungan Hidup telah mengambil tindakan terhadap salah satu perusahaan yang diduga menjadi sumber pencemaran dengan melakukan penyegelan. Proses hukum masih berjalan untuk mendalami persoalan tersebut.

Pengelolaan sampah dan pengawasan pencemaran menjadi perhatian karena masyarakat dapat terkena dampak langsung. Penurunan kualitas udara, bau tidak sedap, dan potensi gangguan kesehatan menjadi risiko yang harus ditangani melalui kebijakan lingkungan yang lebih efektif.

Program TPS3R, bank sampah, dan pengolahan sampah organik telah dijalankan sebagai bagian dari upaya mengurangi timbulan sampah. Namun, jumlah sampah yang mencapai ribuan ton setiap hari membutuhkan sistem pengelolaan dengan kapasitas lebih besar.

Penerapan ekonomi sirkular menjadi salah satu langkah yang dapat dikembangkan dengan mendorong pemilahan sampah dari rumah tangga. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos atau pakan maggot, sedangkan sampah anorganik diarahkan menuju industri daur ulang.

Pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu di setiap wilayah pelayanan juga diperlukan untuk mengurangi beban TPA Jatiwaringin. Ketergantungan terhadap satu tempat pembuangan dinilai tidak lagi memadai bagi daerah dengan pertumbuhan penduduk dan kawasan industri yang pesat.

Pengawasan terhadap perusahaan dan keterbukaan data pengelolaan sampah turut menjadi bagian penting dalam memperbaiki kondisi lingkungan. Masyarakat membutuhkan informasi mengenai anggaran, jumlah sampah yang didaur ulang, pencapaian pengurangan sampah, dan target pengelolaan pada masa depan.

Produksi sampah sekitar 2.500 ton per hari menunjukkan besarnya tantangan lingkungan yang dihadapi Kabupaten Tangerang. Perubahan menuju sistem pengelolaan modern dan berkelanjutan dibutuhkan agar persoalan sampah tidak terus menumpuk dan masyarakat memperoleh perlindungan lingkungan yang lebih baik.

P: Widi Hatmoko

Halaman
3733067073743872993
Chat Kami disini

Form Bantuan Whatsapp

Hello! Ada yang bisa dibantu?
×
×
Total Harga ( Produk)

Tulis catatan disini untuk keterangan lainnya

Total Harga ( Produk)

Biaya Admin:

Biaya ongkir: dg berat ()

Total Pembayaran:

Untuk produk fisik, Ongkos kirim akan muncul setelah ongkir dipilih

Tampilkan Kupon